...sudah lama beta tidak berjumpa
dengan kau..
...sekarang telah menjadi lautan api..
..mari bung rebut kembali..
-Halo halo Bandung, Ismail
Marzuki
Dalam
segala aspek kecuali kekayaaan sumber daya alamnya tidak dapat dipungkiri
Indonesia kalah dari negara lain. Kekayaan alam dan budayanya tidak dapat
membantu indonesia dalam persaingan dengan negara lain. Ratusan gunung ribuan
pantai bisa kita nikmati di negara kita tercinta ini, ya sudah berapa kali saya
bilang, negara Indonesia adalah negara kaya. Negara yang kaya akan segala
galanya, bahkan banyak peneliti yang bilang kalo letak Indonesia itu berada
tepat diatas Atlantis, negara kaya yang hilang jutaan tahun yang lalu karena
letusan gunung yang maha dasyat.
Suatu hari saya hendak pergi kerumah teman, diperjalanan
tiba tiba hujan besar dan saya pun berteduh diwarung kecil yang didalamnya
terdapat seorang pengamen memegang kulele (gitar
yang ukurannya mini) Ia sedang menghitung recehan yang ada ditangannya
sambil tersenyum kepada saya. Hari menjelang senja hujan pun masih belum reda.
Melihat saya yang kebasahan, pengamen itu menyuruh saya masuk dan
mempersilahkan saya duduk di bangku sebelahna dengan nada lembut,sopan dan someah
khas orang sunda. Saya pun menyalakan sebatang rokok yang saya beli dan duduk
disampingnya dan tak lupa saya menawarinya rokok agar ia tak kedinginan,tapi ia
tidak mau menerima pemberian saya melainkan membeli sendiri dengan uang receh
yang didapatnya. sambil memandangi hujan yang semakin deras, pengamen itumembeli
secangkir kopi hitam dan sebatang rokok. Saya sangat ingat kejadian itu ia
meneguk kopi yang panas itu dan menghisap kembali sebatang rokoknya.
Sungguh iri saya melihatnya ia masih bisa tersenyum dan
bercanda tawa dengan pemilik warung yang saya tumpangi untuk berteduh,dengan
candannya ia tertawa lepas sambil kembali meneguk kopi yang lama kelamaan
habis. Dengan segala kekurangannya ia masih bisa menikmati secangkir kopi dan
satu batang rokok ditangannya, dalam masalah ini kata kuncinya ialah bersyukur
atas apa yang telah didapat. Toh dengan uang receh pun ia masih bisa bercanda
tertawa lepas serta menikmati secangkir kopi dan sebatang tembakau.saat saya
tanya lebih jauh ia adalah salah satu penduduk asli daerah tersebut, tepatnya
dikolong jembatan pasupati ya kita sebut ia pribumi. Ia mengamen karena tidak
adanya pekerjaan, pengamen yang hanya tamat bangku sekolah dasar tidak bisa
berbuat apa apa saat takdir berkata lain. Mahalnya biaya pendidikan saat itu
membuat ia memilih untuk meneruskan hidupnya dijalanan, bukan dikursi
pemerintahan. Serba kekurangannya membuat pola berfikir mereka berubah. “daripada buat bayar sekolah mending uangnya
pake buat makan supaya ga mati, kalo uangnya dipake sekolah kita mau makan apa?
yang ada mati kelaparan”. sungguh kata kata yang mengetuk hati saya, disisi
lain kita masih ngomel ke orang tua jika uang saku kurang dan ujung ujungnya
ngambek, tapi mereka? Ada atau tidak adanya uang mereka tidak ngambek tapi
bersyukur. Tetap bisa tertawa, tetap bisa bahagia dan terus menjalani hidupnya.
Secara
tidak langsung ialah yang terkalahkan, segelintir orang yang kalah karena
perubahan jaman, kemajuan teknologi yang mungkin saja ia tidak bisa
menyelaraskannya. Segelintir orang yang masih bisa bertahan hidup di lika liku
permasalahan di negeri ini.Pribumi yang terkalahkan, bukankah ini masalah
pemerintah? Yang tidak bisa mensejahterakan masyarakatnya? Obral janji mensejahterakan
masyarakat kecil saat pemilihan tidak mereka rasakan, ya mereka, mereka pribumi
yang terkalahkan. Segala upaya dilakukan pemerintah, dari mulai sekolah gratis,
beras raskin, jamsospek dan lain lain tapi tidak ada efeknya bagi mereka. mereka
ya tetap saja kurang sejahtera, serba kekurangan dengan tingkat kesabaran
tingkat tinggi mereka bisa menghadapinya, meski mereka terkalahkan merekalah
yang menjaga keseimbangan di negara ini, benar kan? Ini juga masalah kita bung.
Hey kita ini makhluk sosial, ini adalah salah satu masalah sosial. Manusia
adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan dari orang lain.
“tidak ada orang kaya
jika tidak ada orang miskin, tidak ada juara jika tidak ada yang terkalahkan”
Banyak orang orang yang saya temui ketika saya singgah diwarung
sebelah pudunan. Disitulah saya biasa berdiam diri, Suasananya yang sejuk
ditambah banyaknya poho diwarung itu membuat saya betah untuk beristirahat
disitu, dan warung sebelah pudunan ini salah satu tempat yang paling sering saya
singgahi. Tak hanya saya, para pegawai kantoran, kurir sepeda motor, para
pekerja bangunan hingga seorang kakek tua yang mendorong sebuah gerobak pun
singgah disana. Mereka juga singgah untuk seedar melepas lelah atau hanya
menikmati secangkir kopi. Waktu itu saya singgah sebentar karena vespa saya
bermasalah, dan saya bertemu dengan seorang laki laki pegawai kantoran berbaju
rapih serta wangi, sejenak saya beristirahat dan memesan secangkir teh manis. Entah
hari apa tapi saya masih ingat waktu itu masih jam sembilan pagi. Saat semua
sibuk dengan kegiatannya masing masing, laki laki pegawai kantoran itu santai
menikmati secangkir kopi sambil sibuk bermain dengan gadgetnya, beda dengan
yang lain. Saya ga teralu kepo sih tapi yang saya liat ia sangat asik hehe
ketawa ketawa sendiri mirip orang gila. Hal itu pun menimbulkan rasa penasaran,
dan akhirnya saya pun bertanya,
“Pa ga ngantor?tanya saya”
“Engga kang soalnya si bos lagi ga ada
makanya saya nongkrong disini. Jawabnya singkat”
Lah enak bener ya si bapa ini
digaji tetep tapi ga kerja, malah enak enakan diem diwarung. Setelah kami
berbincang ternyata ia adalah seorang pegawai swasta yang bekerja di bidang
pemasaran ya pokonya dibidang pemasaran deh hehe soalnya dia ga bilang
posisinya apa yang jelas kerjanya cuma nginput data terus nerima telfon. Saat
disinggung penghasilannya pun cukup lumayan, ya bisa lah buat nyicil motor
matic hehehe. Menurut saya sih pekerjaannya enak, ga memerlukan tenaga fisik
dan uangnya lumayan, tapi ga berimbang sih dengan tenaga yang dikeluarkan.
Sepulang kuliah saya sempatkan lagi untuk menikmati senja
diwarung pudunan, kebetulan waktu itu ada seorang kurir yang terlebih dahulu
duduk didalam, makanya saya ambil bangku dan duduk diluar. Sambil menunggu kopi
yang saya pesan, saya mendengar percakapan kurir itu dengan babeh penjaga
warung. Ini bukannya saya nguping ya Cuma suaranya itu lumayan keras loh jadi
kedengeran tanpa harus nguping hehehe. Tapi sebagai mahasiswa yang sopan saya
meninggalkan percakapan mereka dan pergi menuju mesjid untuk buang air kecil.
Setelah selesai saya pun balik lagi kewarung dan ternyata kurir itu udah ga
ada. Tanpa saya bertanya pun babeh warung melontarkan pernyataan kepada saya
bahwa kurir iru adalah kenalannya sejak setahun lalu, dia sering mengasupi dagangan
warung babeh seperti rokok, mie dan kopi. Lantas kenapa tadi dia ngomong keras
gitu? Ternyata lagi kurir itu berniat meminjam uang kepada babeh warung sambil
menceritakan keluh kisahnya sebagai kurir. Saya menanggapinya dengan serius
sambil meneguh kopi yang saya pesan dan mulai bertanya kepada babeh warung.
Kami berbincang dengan asiknya, ngalor ngidul membicarakan hal hal yang lainnya.
saya pun akhirnya tau kenapa kurir itu hendak meminjam uang. Dikarenakan
kebutuhan keluarganya yang terbelit hutang kepada depkolektor dengan bunga yang
cukup lumayan. Makanya tadi si kurir bicara keras arena kesal sekali, dia
menyesal karena pernah meminjam uang kepada depkolektor.
Aduh uang lagi uang lagi masalahnya. Saya sampai heran
setiap orang yang saya temui masalahnya tuh pasti ga akan jauh jauh dari uang. Kalo
ga kekurangan uang ya kesulitan uang, belum pernah saya denger orang yang
curhat kelebihan uang hehehe. Tiap hari selasa sebelum berangkat kekampus saya
sempatkan untuk meminum kopi diwarung pudunan, menambah perbincangan dengan
orang sekitaryang mungkin tidak pernah saya dengar. Seperti biasa saya memesan
kopi untuk menemani pagi itu. Tak lama kemudian segerombolan kuli bangunan
datang membawa peralatan bangunannya. Dengan semangat dan senyuman di pagi itu
mereka menapaki jalan untuk bekerja.Singgah sebentar membeli beberapa bungkus
tembakau dan pergi lagi. Merea ramah sekali sopan saat melewat, padahal kan
saya Cuma anak kecil yang duduk disitu, tapi mereka tetap sopan untuk melewati
saya.
“punten kang...”
“Mangga mangga”
Dalam bahasa indonesia artinya “permisi kang.. silahkan silahkan..”
Tak lama kemudian babeh warung menghampiri saya, kembalilah
saya bertanya tanya kepada babeh warung itu siapa mau kemana dan banyak hal
lagi yang saya tanyakan. Setelah lama bercerita ternyata segerombolan orang itu
adalah pekerja bangunan di sebuah proyek dekat warung. Setiap pagi mereka
memang lewat situ untuk membeli beberapa batang rokok, Babeh mengatakan bahwa
mereka memang selalu ceria seriap pergi bekerja, begitupun jika pulang kerja
mereka masih tetap semangat meski baju berbalut lumpur, mereka tetap tertawa.
Kekeluargaanlah yang membuat mereka seperti itu, kebersamaan yang mereka jalani
dan kemistri pertemanan membuat mereka melupakan kelelahan yang setiap hari
mereka alami. Bayangkan oleh anda, pekerja bangunan punya dapet uang berapa
sih? Pasti gakan ngelebihin pegawai kantoran yang saya ceritakan awal awal.
Meski pekerjaan mereka berdua berbeda tapi yang memerlukan ekstra tenaga pasti
yang pegawai bangunan kan? Nah selain pekerja bangunan itu selalu bersyukur dan
menjalani hidup ini dengan semangat, maka Tuhan memberikan teman yang bisa membuat
mereka melupakan kesehariannya sebagai pekerja bangunan. Begitu indah,
pekerjaan berat sekalipun jika dijalani dengan kebersamaan tidak akan terasa
berat, lelah, letih, lesu dan lemas terobati dengan adanya sebuah pertemanan
yang kompak. Hal yang sudah lama tidak saya temukan, hal yang begitu langka
dikalangan anak muda saat ini. Manusia memang memiliki ego masing masing,
memiliki sifat individualisme yang tidak bisa dibendung oleh orang lain. Dalam
kasus ini saya dapat menyimpulkan bahwa hal terkecil yang bisa membuat
seseorang bahagia adalah pertemanan, hal yang membuat seseorang nyaman adalah
kekeluargaan dan kedua hal itu menimbulkan ikatan persaudaraan baru. Jangan
salah loh pertemanan ada juga yang tidak didasari dengan sifat kekeluargaan,
dalam artian hanya sebatas nama = teman.
“...Ada dikala senang hilang dikala
susah, itulah teman...”
“..saat matahari bersinar mereka
begitu banyak menghampiri, begitu datang hujan mereka pergi hilang entah
kemana, dan akhirnya kehujanan sendirian..”
“..Bukan berapa jumlah teman yang kau
miliki, tapi seberapa banyak teman yang menemanimu tanpa alasan..”
Desember 2013, Tegar Rimbara
Seperti biasa sepulang kuliah saya mendaratkan vespa tepat
disebelah warung pudunan. Waktu itu pukul lima sore dalam keadaan mendung
segeralah saya masuk ke ruangan tengah tempat biasa saya ngopi memesan kopi dan
menyalakan sebatang rokok yang saya bawa. Nikmatnya hari itu hjan gerimis
inggris dengan kopi hangat dan asap rokok yang saya rasakan. Selang beberapa
menit datanglah seorang kakek tua membawa gerobak berisikan pisang, ya kakek
tua itu tukang pisang keliling. Dengan badan setengah bungkuk gerobaknya pun
sudah kurang dari kata lumayan ia memarkirkannya didepan warung pudunan dengan
baju kebasahan dan masuk ke ruang yang saya tempati. Tanpa disuruh saya
memberikan ruang duduk untuk kakek tua itu merebahkan badannya, saya tawari
kopi ia hanya mengangguk dan tersenyum, yaudah saya suruh aja kakek itu duduk
didekat kompor agar setidaknya dia bisa menghilangkan dari bajunya yang basah
kuyup. Babeh warung keluar dan menawarinya segelas teh manis dan kake tua pun
mengiyahkannya, sambil ngemil roti kakek tua itu nampak kelelahan.
“..aduh
hujan aja tiap hari” tegasnya
“..iya
nih kek lagi musimnya, tadi darimana aja kek?” tanyaku mencairkan suasana
“..biasa
abis keliling sarijadi nak..”jawab kakek tua itu sambil mengusap air dimukanya.
“..wah
jauh amat kek,ga cape apa?”tanyaku lagi
“..ya
cape tapi mau gimana lagi?ini pisang harus kejual nak, kalo engga nanti cucu
saya makan apa..?”
Percakapan aslinya berbahasa sunda tidak kasar. Saya tak
henti hentinya bertanya kepada si kakek darimana,mau kemana,semalam berbuat apa
hehehe engga lah ya saya intinya penasaran, pokonya saya nanya tentang ini itu kepada
si kakek. Saya sangat antusias dengan si kakek ini, udah tua gini loh ko masih
dorong dorong gerobak malem malem sambil ujan ujanan pula kan ga lucu, kemana
nih anak anaknya?. Oiya karena hujan masih deras saya pun menunggu hujannya
reda,kareka kebetulan saya ga bawa jas hujan begitu pun dengan si kake sama
nunggu hujannya reda, sampai cuaca jadi malam. Obrolan kami semakin seru,
akhirnya si kakek bercerita kenapa ia mendorong gerobak berjualan pisang,
kenapa ia masih mendorong gerobak sampai saat ini. Saya terharu mendengar
semuanya, mendengarkan si akek tua bercerita membuat saya berfikir bahwa dengan
kelapangan hati dan kesabaran membuat kita kaya hati, membuat fikiran jernih
dan bersemangat dalam hari hari yang dijalani. Karena himpitan ekonomi anak
pertama kakek tua itu tidak sekolah dan sekarang kerja menjadi tkw dinegara
tetangga.
Sudah hampir empat tahun kebelakang anak pertamanya itu
tidak pulang kerumah, tanpa kabar dan kakek tua pun menyerahkan segalanya
kepada Yang maha Kuasa. Anak keduanya perempuan bernama teh Lilis sekarang
sudah menikah dan dikaruniai dua orang anak. Karena keterbatasan ekonomi juga
suami teh lilis bekerja jadi kuli bangunan didaerah rumahnya, penghasilannya
tak seberapa dan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maka mereka
masihmenumpang dirumah kakek tua. Yang membuat kakek itu menjual pisang adalah
karena rasa sayang pada cucunya yang masih balita, kakek sangat menyayangi
cucunya itu, disela sela kesibukannya ia selalu bermain dengan cucu yang paling
kecilnya. Oiya istri dari kakek itu sudah lama tiada, meninggal karena kanker.
Keadaan yang kurang mencukupi membuat kakek tua itu tidak bisa berbuat banyak. Keterbelakangan
dalam hal pendidikan membuat kakek tua itu hanya bisa berjualan pisang, ya dari
dulu Cuma hal itu yang dapat ia lakukan untuk menyambung hidup. Cuma berjualan
yang bisa dilakukan oleh orang orang kecil sepertinya.
“Sesibuk apapun,
alokasikan waktu untk silaturahmi, bukan saja soal uang dan peluang! Ternyata
silaturahmi itu menyehatkan!
Januari 2014, Kiki Ramdhani
Hidup
saya penuh dengan drama, ya drama orang lain yang saya tanya tanya. Mungkin
melalui catatan saya ini siapa tau pembacanya bisa sampai ke kursi
pemerintahan, agar mereka bisa mendengar cerita cerita dari pribumi yang
terkalahkan, dari orang yang tidak mereka temui, yang mungkin sampai saat ini
pribumi yang terkalahkan belum bisa merasakan indahnya Indonesia. Himpitan
ekonomi dengan kebijakan kebijakan pemerintah yang membuat mereka jengah, mosi
tidak percaya bahkan ada yang sangat acuh sekali. Kita itu diciptakan Tuhan
untuk saling melengkapi, untuk saling membantu, saling ada untuk yang lainnya
dan menjalin silaturahmi. Bukannya untuk berebut kekuasaan, berebut kebahagiaan
dan mensejahterakan kehidupannya sendiri.
No comments:
Post a Comment